Sedikit banyak hampir sama seperti film 5cm, yang menceritakan kisah 5 sahabat yang pergi untuk mendaki gunung Mahameru, demi melihat kebesaran sang Ilahi dari atas puncak Gunung Tertinggi Pulau Jawa, tetapi bukan hanya itu yang mereka cari. Genta, Arial, Zafran, Riani dan Ian juga melakuakan perjalanan hati. Hati untuk mencintai persahabatan mereka yang erat, dan hati yang akan terus mencintai negeri ini.

Sudahlah, nanti ceritanya panjang jadi berbab-bab 😀 langsung ke beritanya ya. Sebanyak 14 anak sempat hilang di Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Mereka tersesat dalam perjalanan pulang usai refreshing dan makan-makan di sekitar Gunung Tangkubanparahu. Apa pengalaman mereka saat tersesat?

Tersesat saat perjalanan pulang, mereka selalu bersama-sama untuk mencari jalan pulang. Tapi mereka akhirnya terpisah sekira pukul 23.00 WIB karena Fikri, salah seorang anggota rombongan, jatuh pingsan.

Empat orang dari mereka kemudian menjaga Fikri di sekitar tower yang ada di tengah hutan. Sementara sembilan orang lainnya berinisiatif mencari pertolongan. Mereka kemudian berpisah. Tapi niat baik mereka tidak berjalan baik. Sembilan anak itu kembali tersesat. Mereka tak tahu jalan kembali menuju lima temannya yang lain. Mereka pun makin linglung mencari jalan pulang.

“Kami akhirnya tidur di bawah pohon,” ujar Firdaus, salah seorang anak yang ikut tersesat. Berada di tengah hutan dan tidur seadanya, ia dan teman-temannya mengaku tidak takut apapun saat itu. “Kita enggak takut karena terus bareng-bareng,” ungkapnya. Berbeda dengan Firdaus dan kawan-kawan yang tidur di bawah pohon, anak-anak lainnya tidur bersandar pada dinding tower. “Kita bersandar ke tembok tidurnya,” timpal Arif.

Saat itu, Arif dan empat temannya memang sedang menunggu pertolongan untuk Fikri yang pingsan. Arif dan rekan-rekannya ogah meninggakan Fikri sendirian di tengah hutan. Bagi Arif, Firdaus, dan teman-temannya, itulah arti persahabatan. Di mana mereka harus bersama dalam suka dan duka. Apalagi, mereka berada di tengah hutan dan sama-sama tersesat.

Fikri sendiri mengaku tiba-tiba pusing saat bersama rekan-rekannya mencari jalan pulang. “Tiba-tiba kepala saya pusing, terus enggak ingat apa-apa lagi,” cetusnya. Meski sempat tersesat dan pingsan, Fikri senang karena teman-temannya menunjukkan kepedulian dan persahabatan. Ia tidak ditinggalkan di hutan. Sebaliknya, ia ditunggui dan sebagian temannya mencari pertolongan.

Kisah belasan sahabat yang tersesat itu happy ending. Mereka tak sengaja ditemukan kelompok pecinta sepeda motor offroad yang melintas. Mereka kini sudah kembali ke rumahnya masing-masing dan siap menjaga persahabatannya.

(okezone.com)