solid-goldberjangka.com – Nama sebuah produk menjadi salah satu faktor yang menjadi kunci sukses seorang yang berbisnis kuliner. Selain itu, kualitas rasa pun menjadi kunci utamanya.

Di Bandung, Jawa Barat ada kedai makan yang biasa disebut dengan Nasi Goreng (Nasgor) Mafia yang sudah beroperasi sejak Oktober 2013. Meski umurnya belum terlalu lama, Nasgor Mafia sekarang ini sudah memiliki 7 cabang, di antaranya 5 cabang di Bandung, masing-masing satu di Pekanbaru dan Jakarta.

Nasgor Mafia memang sedang jadi perbincangan orang, khususnya para pengguna media sosial. Citarasa rempahnya yang unik dan level kepedasan yang bisa membuat orang yang menyantapnya menangis cukup ramai diperbincangkan di lini masa.

Di balik kehebohan yang ditimbulkan oleh Nasgor Mafia, ada 7 sekawan yang membangun kedai nasi goreng ini. Mereka adalah Angga Nugraha, Rex Marindo, Danis Puntoadi, Pujiana Nurul Hikmah, Budiardi Supasentana, Sarita Sutedja, dan Stefanie Kurniadi.

Tujuh sekawan ini adalah teman yang sering nongkrong bareng dan sama-sama penghobi kuliner. Kegiatan coba-coba kuliner di Bandung adalah keseharian mereka. Roadshow mencoba menu kuliner baru sudah menjadi kebiasaan mereka berenam. Di tengah-tengah nongkrong dan makan kemudian muncul ide untuk membuat usaha kuliner sendiri. Gagasan awalnya yaitu daripada hanya makan di tempat orang lain, mengapa tidak membuat usaha kuliner sendiri.

Mereka pun kemudian berdiskusi rumah makan model apa dan menu seperti apa yang akan mereka dirikan. Akhirnya dipilihlah kedai nasi goreng. Salah satu alasan yang menguatkan untuk memilih nasi goreng adalah menu nasi goreng ada di urutan kedua sebagai menu paling enak di dunia menurut website CNN.

Namun mereka tak mau asal membuat rumah makan nasi goreng seperti umumnya. Setelah berdiskusi lagi diputuskan bahwa mereka akan menonjolkan citarasa rempah dalam nasi goreng mereka. Sudah kita ketahui semua bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya rempah-rempah.

“Dulu Indonesia kan dijajah karena rempah-rempah. Sekarang saatnya Nasgor Mafia menjajah dunia lewat rempah-rempah,” kata Angga berseloroh

Setelah memutuskan nasi goreng sebagai menu utama rumah makan yang bakal mereka dirikan, enam sekawan ini mulai rutin melakukan ujicoba. Mulai Agustus 2013 bermacam eksperimen mereka lakukan untuk menemukan citarasa paling pas dari nasi goreng tersebut.

Dalam satu piring nasi goreng, rempah yang digunakan bisa mencapai belasan. Contohya adalah nasi goreng Gangster yang jadi best seller, adonan bumbunya terdiri 18 macam rempah.

Akhir September mereka sudah menemukan formula nasi goreng rempah yang akan disajikan kepada konsumen dan pada 1 Oktober 2013 akhirnya resmi berdiri cabang pertama Nasgor Mafia di Jalan Dipati Ukur.

Nama Mafia sendiri dipilih untuk menggambarkan karakter nasi goreng mereka yang ganas. Bukan sekedar ganas karena bercita rasa pedas, tapi juga mempunya kekuatan rempah yang dahsyat. Selain itu Mafia juga merupakan singkatan dari Makanan Favorit Indonesia.

Tak lama setelah dibuka, nasi goreng yang harga jualnya mulai dari Rp 12.500 ini diserbu pembeli. Ratusan pembeli memenuhi beberapa cabang Nasgor Mafia. Setiap cabang paling tidak didatangi 250 pengunjung perharinya. Bahkan untuk Nasgor Mafia cabang pertama di Dipati Ukur porsinya bisa berlipat tiga kali. Cabang Dipati Ukur dalam sehari bisa menyajikan hingga 770 porsi nasi goreng!

Pihak Nasgor Mafia sendiri tak mau buka-bukaan berapa omzet mereka. Mereka hanya mengatakan kalau pembelian setiap orang kisarannya Rp 17.000-25.000. Terbayang kan omzet harian mereka. Bila setiap orang yang makan membayar harga minimal yaitu Rp 17.000 dan terjual 250 porsi, dalam sehari pendapatannya sekitar Rp 4 juta.

Dalam sebulan paling tidak omzetnya Rp 120 juta. Itu hitungan minimal. Omzet tersebut jika dikali 7 cabang angkanya tentu saja sudah mendekati Rp 1 Miliar. Angka yang wow untuk sebuah kedai nasi goreng.

Di balik cerita sukses yang terlihat meroket tersebut, Angga mengatakan bahwa bisnisnya tak selalu mulus dan lancar. Komplain pelanggan adalah hal yang biasa. Kadang komplain dari pelanggan cukup pedas seperti rasa nasgor, tapi mereka tetap menganggap sebagai masukan positif untuk membangun Nasgor Mafia.

Komplain yang sering datang adalah soal rasa yang kadang berbeda dari satu cabang dengan cabang lain dan layanan yang berbeda antara satu cabang dengan cabang yang lain.

Untuk mengatasi masalah tersebut, manajemen Nasgor Mafia rutin mengadakan pelatihan untuk proses standardisasi rasa makanan dan pelayanan kepada pelanggan.

“Kami sekarang ini rutin mengadakan pelatihan kepada para karyawan agar pelayanan dan citarasa yang dinikmati pelanggan bisa sama. Sejak pelatihan rutin ini dijalankan komplain dari pelanggan sudah berkurang,” kata Angga.

Sekarang ini tim Nasgor Mafia tengah mengembangkan dua model penjualan. Yang pertama adalah model kedai seperti di Jalan Dipati Ukur yang kedua adalah model food court yang berfokus di mall. Untuk model food court saat ini mereka sudah membuka di Bandung Indah Mall.

Melihat serbuan yang dilakukan Nasgor Mafia, bukan mustahil jika akan semakin banyak mafia-mafia baru yang menyajikan nasi goreng. Bukan sekedar di Bandung, di kota-kota lain Nasgor Mafia bersiap mengibarkan benderanya.

(detik.com)