solid-goldberjangka.com – Entah karena emosi atau memang sudah karakter, beberapa orangtua begitu entengnya memarahi anak di ranah publik. Tak sedikit yang melakukannya dengan mengumpat pada anak menggunakan kata-kata yang tak pantas didengar, seperti bodoh, bandel, atau nakal.

Satu hal yang mungkin tidak disadari oleh orang tua yang sering memarahi anak mereka dengan kalimat-kalimat yang membuat anak merasa malu, perilaku ini sama saja dengan pelecehan secara emosional.

Terapis pernikahan dan keluarga, Karyl McBride PhD, mengatakan bahwa memukul anak baik secara fisik maupun verbal bukan merupakan perilaku terpuji. Sebab, anak berhak untuk memiliki ikatan dengan orang tua mereka lewat cara-cara lembut dan penuh kasih.

“Ada ekspektasi di dalam diri anak bahwa orangtuanya akan memberikan rasa aman, perlindungan, penerimaan, pemahaman, dan empati. Ketika ini terjadi, anak akan tumbuh dengan perasaan dihargai dan mudah bagi mereka untuk dan menghargai orang lain, termasuk dirinya sendiri. Namun, ketika anak dilecehkan secara emosional atau psikologis, mereka akan tumbuh dengan rasa tak dicintai, tak diinginkan, dan penuh rasa takut,” ujar McBride.

Sering dipermalukan depan banyak orang mengganggu perkembangan emosinya dan membuat luka dalam hati mereka, bisa saja anak merasa terkucil. Alasan anak tumbuh menjadi pribadi kurang percaya diri dan minder adalah seringnya mendengar ungkapan dan ucapan negatif disekitar mereka saat masih kecil.

“Saat anak tumbuh dewasa, mereka akan membesarkan anak dengan cara serupa, sebagaimana mereka dibesarkan. Pesan yang mereka peroleh sejak kecil akan terserap dan kembali dikeluarkan pada anak mereka. Lingkaran pesan ini seperti terus-menerus mengulang rekaman yang sama, seperti ‘Mengapa kamu bodoh sekali?’ atau ‘Kamu tak becus melakukan apapun’ atau ‘Inilah mengapa tidak ada yang menyukaimu,'” urainya.

Orangtua yang mendidik anak dengan cara yang tepat dan terpuji, menghasilkan seorang manusia dewasa yang memiliki sopan santun andal di lingkungan sosial. Sebab, perasaan menghargai itu menular. Anak yang terbiasa dihargai dan melihat contoh baik akan mengulang tingkah laku serupa saat mereka dewasa.

(kompas.com)