SOLID-GOLDBERJANGKA.COM – Di Indonesia, semua berita yang ada di semua media baik cetak, online, atau pun televisi lebih condong memberitakan semua hal tentang Palestina dan unjuk rasa untuk menggalang solidaritas untuk mendukung kemerdakaan Palestina. Ujuk rasa yang diberitakan di media-media Indonesia juga biasanya hanya unjuk rasa yang dilakukan oleh orang-orang yang membawa nama Agama Islam dan membela Palestina. Padahal di berbagai belahan dunia, banyak kelompok-kelompok orang yang juga mengutuk serangan Israel terhadap masyarakat sipil Palestina atas nama kemanusiaan. Timpangnya media-media di Indonesia dalam memberitakan tentang unjuk rasa menentang serangan militer Israel di jalur Gaza juga menggiring opini masyarakat Indonesia ke arah bahwa konflik antara Israel dan Palestina adalah konflik keagamaan.
Konflik yang sudah terjadi selama puluhan tahun ini diawali oleh Bangsa Israel yang yakin bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan dalam kitab Talmud. Bangsa Palestina yang juga merasa bahwa tanah yang mereka tempati adalah tanah leluhur mereka, tetap bersikeras untuk tinggal di sana. Gerakan Zionisme yang merebak pada abad 19 membawa banyak orang Yahudi yang tadinya tinggal di Eropa untuk imigrasi ke Palestina dan mendirikan Negara Israel dengan merampas tanah Bangsa Palestina.
Hal ini juga dipertegas dengan pernyataan Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi. Dalam acara Hari Internasional Solidaritas untuk Palestina pada tahun 2011 lalu, Mehdawi menjelaskan bahwa 50% penduduk Palestina adalah orang Yahudi dan sisanya Islam dan Kristen. Permasalahan tentang serangan Israel atas Palestina memang murni adalah tragedi kemanusiaan. Penyamaan antara Zionis dengan Yahudi juga tidak benar karena tidak semua orang Yahudi mendukung tindakan Zionisme Israel. Di New York, ribuan Umat Yahudi Orthodox melakukan long march untuk mengutuk apa yang dilakukan Israel atas Palestina. Menurut mereka apa yang Israel lakukan sangat bertentangan dengan ajaran Judaism dan Taurat.

Noam Chomsky yang terkenal sebagai Bapak Linguistik Modern dan juga merupakan seorang keturunan Yahudi, memberikan dukunganya terhadap kemerdekaan penuh Palestina dan mengecam tindakan Israel. Pada tahun 2013 lalu, Chomsky mengajak Stephen Hawkins untuk memboykot sebuah konfresi yang akan diadakan di Tel Aviv, Israel.

Di media sosial banyak kampanye damai yang dimulai oleh orang Arab (Palestina) dan orang Yahudi. Salah satu akun yang saat ini sedang banyak disorot adalah Jews and Arabs Refuse to be Enemies di Facebook atau dengan tagar #jewsandarabsrefusetobeenemies di Twitter. Melalui kampanye ini, orang-orang Arab (muslim) dan Yahudi terlihat hidup berdampingan dan saling mengasihi. Mereka mencotohkan bahwa orang yang berbeda pun bisa hidup bersampingan dan saling mengasihi apabila ada rasa cinta di anatara mereka.

Sayangnya tidak banyak media-media di Indonesia yang memberitakan berita seperti itu. Berita yang menengahi dan informatif jauh lebih bisa membuat perbedaan. Jika ingin menciptakan perdamaian maka kita juga harus memberitakan yang baik untuk menciptakan saling pengertian dan informasi yang benar.

(yangmuda.com)