solid-goldberjangka.com – Dibalik sukses bisnisconvenience store Seven Eleven (Sevel), ada Henri Honoris. Dialah yang membidani metamorfosis Sevel di bumi Indonesia. Melalui bendera PT Modern Putra Indonesia yang merupakan anak usaha PT Modern Internasional, Henri berhasil mengembangbiakkan Sevel hingga mencapai 175 gerai. Tercatat sepanjang semester I-2014, Sevel meraup pendapatan sebesar Rp 467,1 miliar. Pendapatan dari Sevel ini berkontribusi 80% dari total penjualan seluruh perusahaan.

Apa yang dicapai oleh Henri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan perjuangan dan kerja keras yang cukup panjang. Semua berawal ketika teknologi berlari sedemikian kencang sehingga mengguncangkan bisnis keluarga Henri. Ketika itu, keluarga Henri yang gemar fotografi menjadi distributor Fuji Film Jepang. Perusahaan yang dirintis sejak 1971 itu pun mengembangkan beragam varian produk fotografi di Indonesia.

Bisa dibilang, bisnis keluarga Henri membesar berkat fotografi. Bisnis itu mengakar dan melahirkanrating bisnis, mulai dari industri (kamera, kosmetik, elektronik), perdagangan (distributor tunggal Fuji dan Hitachi), properti, keuangan, pariwisata, hingga jasa advertising di bawah induk perusahaan Grup Modern.

Sayang, badai krisis moneter pada 1997 meluluh-lantakkan Grup Modern. Lalu kehadiran era digital makin memperburuk keadaan. Gerai-gerai fotografi milik PT Modern Photo Tbk rontok satu persatu. “Tak ada yang menyangka kamera digital akan menghapus kamera konvesial,” cerita Henri seraya menuturkan Modern Photo akhirnya bersalin nama menjadi PT Modern Internasional Tbk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Henri yang saat itu bekerja di Fuji Film, New York sebagai market research analyst ditarik pulang ke Jakarta. Henri mengaku, inilah tamparan terberat. Apalagi saat rekturisasi dia harus memecat banyak orang, padahal mereka sudah bekerja puluhan tahun. “Saya banyak menutup outlet, karena orang tidak lagi membeli kamera konvensional. Saya harus membuka beberapa bisnis baru. Kerjaan saya saat itu banyak merekturisasi. Itu seperti memotong nadi sendiri,” kata pemilik hobi olahraga lari dan kerja ini.

Harus Inovatif

Meski Henri adalah generasi ketiga di perusahaan milik keluarganya, dia hanya didapuk sebagai manager store. Dua tahun kemudian, sarjana marketing and finance lulusan Seattle University, Seattle, Amerika Serikat didaulat menjadi General Manager PT Modern Putra Indonesia. Dan, Januari 2005, Henri dipercaya sebagai direktur sales & marketing PT Modern Internasional Tbk merangkap Presiden Direktur PT Modern Putra Indonesia.

“Di dunia ini tak ada yang abadi. Saat itu kami pikir tidak ada yang akan menggantikan industri foto yang sudah lahir puluhan tahun. Karena itu kita harus inovatif dan mengikuti perkembangan jaman kalau ingin bertahan. Sebagai pengusaha kami belajar, untuk tetap maju dan semangat. Modal kolor pun, tetap harus bisa bangkit lagi,” paparnya.

Dengan pertimbangan untuk bertahan, Henri membeli lisensi Sevel. Bukan perkara gampang. Soalnya, selama dua tahun Henri harus menunggu. Dia juga diharuskan melakukan pekerjaan mengepel, membersihkan WC, meracikhotdog dan sandwich serta mengikuti truksupplier pengantar barang ke salah satu toko. Ketika akhirnya, Henri berhasil memboyong Sevel ke Indonesia, dia tetap melakukan pekerjaan itu.

“Potensi Sevel cukup besar, karena kelas menengah di Indonesia bertambah. Produknya bagus dan kebutuhan market ada,” ucap pria kelahiran tahun 1975 ini.

Meski menggusung brand internasional, Henri tetap memberikan sentuhan lokal pada konsep gerainya. “Masyarakat kita suka nongkrong dan bersosialisasi. Mereka juga ingin tetap terkoneksi akses data, sekaligus dapat menikmati makanan dan minuman terjangkau yang berkualitas. Lalu, kami menggabungkannya dalam satu konsep menjadi Sevel Indonesia,” katanya.

Henri pun tak lepas bersyukur. Betapa tidak, Sevel Indonesia mampu diterima oleh masyarakat. Penetrasi pasarnya terbilang cepat. Saat ini, Sevel masih menyasar pasar anak muda Jakarta dan dalam beberapa tahun ke depan, Henri berencana mengembangbiakkannya hingga ke daerah.

Untuk mempersenjatai Sevel-nya, Henri melengkapinya dengan makanan dan minuman siap saji yang praktis. Semua makanan itu diolah dalam central kicthen (pabrik) yang kemudian didistribusikan keoutlet dalam waktu cepat untuk menjaga kesegarannya. “Infrastruktur kami cukup lengkap. Dari gudang, dapur, distribusi, IT dan pelatihan, kami memiliki semuanya dengan baik,” tutur Henri.

Henri, kemudian juga menggandeng UKM untuk mensuplai produknya. Bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koperasi dan UKM, Henri membina UKM tentang food safety dan packaging yang baik. “Kami berikan akses pasar di Sevel. Produk mereka kami beli didepan untuk tidak memberatkan mereka. Kami juga bekerjasama dengan pengolah limba untuk menampung makanan yang tidak terjual dan diolah jadi pakan ternak,” tandasnya.

(inilah.com)