Solid Gold Berjangka – Mengapa Ide Baik Tak Selalu Sukses

SOLID GOLD BERJANGKA JAKARTA – Mengapa ide yang lebih baik tidak selalu sukses? Mengapa konsep yang tadinya kita kira inovatif malah tidak berhasil? Bukankah yang lebih baik harusnya menang?

Kenyataannya kita semua tidak tahu apa yang benar – benar kita inginkan, kita ingin inovasi, kita ingin perubahan, kita ingin sesuatu yang baru dan kreatif dan bla.bla.bla. Masalahnya itu semua bohong. It’s a lie.

Simpelnya masyarakat tidak menginginkan inovasi. Memang hal ini sulit dipercaya, tetapi faktanya ide brilian itu tidak berharga. Perhatikan berbagai bisnis yang sukses besar dan kita pikir itu inovatif :

  • Google : tiruan Yahoo Search yang lebih baik (bahkan Google sempat ingin dijual kepada Yahoo hanya sebesar 1 juta dollar, ditolak, dan akhirnya Google mencoba peruntungannya sendiri).
  • Facebook : tiruan dari sosial media MySpace dan Friendster yang awalnya dibuat eksklusif untuk mahasiswa Harvard (setelah berhasil mendominasi kalangan mahasiswa barulah Facebook memperluas penggunanya).
  • Quora : tiruan Yahoo Answer yang lebih baik.
  • Tokopedia : meniru model Alibaba di Cina dan diimplementasikan sesuai dengan market di Indonesia.
  • Go-Jek : meniru model Uber di luar negeri dan diimplementasikan sesuai keadaan di Indonesia.
  • Disdus : daily deals yang meniru konsep Groupon di luar negeri (sampai akhirnya resmi di akuisisi oleh Groupun).

Bisnis – bisnis diatas telah melakukan perubahan yang luar biasa, tapi itu semua terjadi bukan karena sebuah ide yang brilian, mereka bahkan hanya meniru konsep atau ide yang sudah ada dan mengeksekusinya dengan sangat brilian.

Lupakan soal ide, memang kita butuh ide untuk dikerjakan, tapi apa yang jauh lebih penting dan sebelumnya telah kita bahas pada artikel apa yang orang inginkan adalah timing dan momentum.

Hampir semua bisnis yang sukses besar biasanya bermula dari sebuah momentum, contohnya Tokopedia yang memanfaatkan tren E-Commerce di Indonesia.

Urutan tren startup yang biasanya terjadi pada setiap negara adalah :

Media online –> E-Commerce –> Sosial media

Tidak selalu urut seperti itu tetapi mayoritas demikian. Indonesia jelas sudah ada di tahap E-Commerce. Jika anda perhatikan sebenarnya hampir semua bisnis atau industri yang ada disini hanyalah meniru konsep yang sudah ada diluar negeri, idenya dibawa ke Indonesia dan disesuaikan dengan budaya lokal.

Ini bukan tentang ide yang lebih baik, tetapi bagaimana mengeksekusi ide tersebut dengan lebih baik, menunggu timing yang tepat, dan mendapatkan momentum.

Terkadang kita berekspektasi terlalu berlebihan dengan sebuah ide yang original, faktanya walaupun anda adalah orang yang pertama kali memiliki ide tersebut (original), hal itu tidak akan menjamin kesuksesan (contohnya MySpace & Yahoo).

Contoh lainnya Go-Jek yang sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 2010 namun saat itu masih terlalu cepat karena pasarnya (market) belum siap, E-Commerce saja baru trending di Indonesia sekitar tahun 2012 dan Go-Jek mulai berkembang pesat di tahun 2015.

Jadi sangat jelas bahwa timing dan momentum adalah kuncinya. Jadi apakah anda masih mencari ide terbaik untuk dieksekusi?

Well, stop it.

Ide brilian itu menjebak. Inovasi itu menjebak. Karena kebanyakan dari kita hanya memikirkan ketertarikan diri sendiri.

Anda tertarik dengan sebuah ide, merasa semuanya sudah sempurna, begitu di eksekusi ternyata tidak ada apapun yang terjadi, mengapa?

Karena orang lain memiliki cara berpikir yang berbeda dengan anda. Tidak semua orang menyukai apa yang anda sukai, tidak semua orang hidup sesuai dengan gaya hidup anda, tidak semua orang tertarik dengan apa yang anda minati.

Sebuah bisnis atau karya ataupun produk apapun itu tujuannya diciptakan untuk orang lain bukan untuk anda (kecuali anda hanya ingin memuaskan diri sendiri itu lain cerita).

Masih ingat dengan pembahasan mengapa kita sering mendengar berita hoax? Kita sering mendengar berita settingan dan hoax karena media memberikan apa yang kita mau, apa yang sering anda lihat dimedia adalah konten yang memang ingin anda lihat.

Pada akhirnya semua bisnis atau produk atau jasa ataupun karya yang ada disekitar kita ditujukan untuk kita sebagai konsumen.

Ada alasan mengapa kategori film hanya itu – itu saja, ada alasan mengapa seri sinetron terus berlanjut, ada sebab mengapa jenis – jenis blog atu artikel populer topiknya itu lagi dan itu lagi, karena memang itu semua yang diinginkan oleh konsumen.

Kenapa konten edukasi kurang populer dibandingkan konten hiburan, gosip, drama settingan, kontroversi dan sex? Karena konsumen ingin yang seperti itu.

Teori berkata A tapi fakta dan datanya berbicara B. Sinetron dan kontroversi terus laku sedangkan konten edukasi sangat sulit mendapatkan rating & trafik – SOLID GOLD BERJANGKA

Sumber : log.viva.co.id