SOLID-GOLDBERJANGKA.COM – Najia Warshagha, ia adalah representasi penderitaan kolektif anak-anak Gaza — seorang gadis cilik tak berdaya, menangis tersedu dengan mata menatap ke bawah, wajah berlumur darah yang melukiskan satu kata: penderitaan.

Foto ekspresi kesedihan Najia menyebar ke seluruh dunia, yang diambil pascaserangan Israel akhir Juli 2014 lalu ke sekolah PBB di Jabaliya, Beit Lahiya, yang seharusnya menjadi tempat bernaung dan berlindung dari kejamnya perang.

“Dunia sedang dipermalukan,” kata Sekjen PBB Ban Ki-moon yang terkejut bukan main mendapat kabar bahwa 15 orang tewas dan 100 lainnya terluka akibat serangan itu. Keterlaluan!

Najia Warshagha, dalam usianya yang baru 9 tahun, sudah menjadi veteran 3 perang berdarah dan konflik mengerikan di Gaza. Yang belakangan bahkan merenggut setidaknya 447 nyawa anak-anak — dari total korban jiwa 2.744 orang.

Sementara, ribuan bocah lain — termasuk Najia — mengalami luka dan trauma psikologis berat.

Sembilan hari setelah serangan di sekolah PBB, Najia bertengger di sofa di rumah kerabat menceritakan pengalamannya. “Aku ada di kelas nomor satu, tidur. Tiba-tiba ada bom besar. Ibuku memelukku, lalu rudal yang lain datang. Aku berteriak dan menangis,” kata dia, seperti Liputan6.com kutip dari Guardian, Selasa (12/8/2014).

Apakah ia masih mengingat kejadian itu? Si bocah diam sejenak, lalu mengangguk. “Aku masih memimpikannya,” Najia berucap dengan suara lirih.

Menurut sang ibu, Majdolen (31), keluarganya lari dari rumahnya di Beit Lahiya, dekat perbatasan Israel. Awalnya mereka mengungsi ke sebuah sekolah, tapi karena merasa tak aman, mereka bergabung dengan 3.300 pengungsi lain di Jabaliya. Tujuh keluarga tinggal dalam sebuah ruang kelas saat rudal menghantam sekitar pukul 04.30. Kaki Najia terluka, sementara adiknya yang baru berusia 4 tahun, Ali, cedera di bagian kepala.

Dua bersaudara itu dilarikan ke RS Shifa. Ali dirawat selama 2 hari, sementara Najia menjalani perawatan selama seminggu akibat trauma berat. Hingga saat ini ia masih harus mengonsumsi obat. “Ia sangat trauma,” kata Madjolen. “Ia tak bisa tidur lelap, selalu ketakutan. Anak-anak juga tak mau pergi jauh dariku, tidur bersamaku, mengikuti ke mana pun aku pergi.”

Menurut sang ibu, Najia telah menjadi saksi mata dari 3 operasi Israel — Operation Cast Lead pada 2008-2009, Operation Pillar of Defence pada 2012, dan Operation Protective Edge yang masih berlangsung saat ini. Menurut Najia, yang terakhir adalah yang paling mengerikan. Rumahnya, sekolahnya, rata dengan tanah. Tak ada yang tersisa.

Derita Psikologis

Para dokter dan ahli mental di Gaza menggambarkan betapa berat penderitaan psikologis anak-anak di sana. Setelah Operation Cast Lead, sebuah studi yang dilakukan program kesehatan mental masyarakat Gaza (GCMHP) menemukan bahwa 75 persen dari anak-anak di atas usia 6 tahun menderita satu atau lebih gejala gangguan stres pasca-trauma.

“Mayoritas anak menderita efek psikologis dan sosial. Merasa tak aman, dan luar biasa tidak berdaya. Kami mengamati anak-anak menjadi lebih cemas, mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, teror di malam hari, memiliki perilaku regresif seperti menempel kepada orang tua, mengompol, menjadi lebih gelisah dan hiperaktif, menolak tidur sendirian. Beberapa mulai lebih agresif,” kata Hasan Zeyada, psikolog GCMHP kepada Guardian.

Sementara, sebuah studi yang dilakukan Unicef, terkait Operation Pillar of Defence pada 2010, ditemukan 91 persen anak mengalami gangguan tidur selama konflik, 94 persen tidur dengan orangtuanya, 85 persen mengalami gangguan makan, 82 persen merasa marah, 97 persen merasa tak aman, 38 persen merasa bersalah, 47 persen menggigiti kuku mereka, 76 persen mengaku gatal atau merasa sakit, dan 82 persen merasa takut kematian makin dekat.

Zeyada mengatakan, kali ini akibatnya lebih buruk. Sebab, “semua anak yang berusia di atas 6 tahun menjadi saksi dari 3 perang. Kita sedang bicara soal generasi yang trauma. Mereka akan melihat dunia sebagai tempat berbahaya, akan mengalami frustasi dan kemarahan. Juga nafsu untuk balas dendam,” kata dia. “Apalagi perang kali ini lebih intensif, brutal, dari 2 pertempuran sebelumnya. Dua pilar masyarakat Palestina — keluarga juga agama — telah menjadi target. Banyak keluarga mengalami kehilangan beruntun, ribuan rumah dan puluhan masjid hancur.”

Zeyada mengaku, 4 anaknya juga mengalami trauma yang sama. Tiga minggu lalu, pria itu kehilangan ibunya, 3 saudara, saudari ipar, dan seorang kemenakan dalam serangan Israel ke pusat Gaza. “Tak ada peringatan,” kata dia.

“Tak ada yang menjamin ini tak akan terjadi lagi,” kata Zeyada. “Jika kita bisa menjamin keamanan dan keselamatan bagi anak-anak, itu akan membantu mereka untuk mengatasi trauma. Tapi jika sebaliknya, kita tidak bisa melindungi mereka dari siklus kekerasan, sangat sulit … Israel sedang dalam proses menciptakan musuh mereka.” Generasi baru.

(liputan6.com)