“Selama empat bulan jalur pendakian Semeru ditutup, petugas TNBTS kebanjiran telepon dari para pendaki yang menanyakan kapan jalur pendakian Semeru dibuka, sehingga tidak heran banyak pendaki langsung memadati Semeru saat ini,” tuturnya.

Jalur pendakian Semeru ditutup sejak 7 Januari 2014 karena badai dan cuaca buruk yang terjadi di sepanjang jalur pendakian gunung setempat, kemudian petugas TNBTS melakukan survei dan pembersihan jalur pendakian dan membuka secara resmi jalur pendakian Semeru pada 5 Mei 2014.

“Pembukaan jalur pendakian Gunung Semeru hanya diputuskan sampai Kalimati saja dan wisatawan tidak diperbolehkan naik ke puncak Jonggring Saloko karena berbahaya,” katanya.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan pendakian hingga Kalimati karena status Gunung Semeru masih Waspada (Level II), sehingga masyarakat atau pendaki tidak boleh melakukan aktivitas di radius 4 kilometer dari puncak.

“Petugas TNBTS di Pos Ranu Pani memperketat izin pendakian yakni pendaki wajib membuat surat pernyataan yang menyebutkan mereka melakukan pendakian hingga Kalimati dan tidak naik ke puncak,” paparnya.

Ayu mengimbau para pendaki mematuhi rekomendasi TNBTS untuk melakukan pendakian hingga Kalimati dan biasanya pendaki yang tersesat di jurang dengan kedalaman sebesar 75 meter (Jurang Blank 75) karena mereka nekat naik ke puncak Semeru (Mahameru).

Para pendaki saat ini harus merogoh biaya yang lebih mahal dibandingkan biasanya karena TNBTS memberlakukan tarif baru untuk pendakian Gunung Semeru yakni wisatawan domestik dikenakan tarif tiket Rp.17.500 untuk hari kerja dan pada hari libur tiket sebesar Rp22.500 per hari. Sedangkan, bagi wisatawan mancanegara pada hari kerja dipatok tarif sebesar Rp207.500 dan hari libur sebesar Rp307.500.

Sementara untuk tiket ke Gunung Bromo bagi wisatawan domestik pada hari kerja Rp27.500 dan hari libur Rp32.500. Untuk wisatawan mancanegara pada hari kerja, tiket dipatok Rp217.500 dan hari libur Rp317.500. (antaranews.com)