solid-goldberjangka.com – Mengenakan baju serba putih, nenek Fatimah menjelaskan kasus yang melilitnya. Dia digugat menantu dan anak kandungnya sendiri, Nurhana, dalam kasus sengketa tanah seluas 387 meter persegi hingga ke Pengadilan Negeri (PN) Tangerang.

“Masya Allah, tega bener itu anak. Orangtua digugat mulu, dari polisi sampai pengadilan,”

Dia mengaku tak rela jika tanah yang jadi tempat bernaungnya selama ini, diambil sang Anak. Karena, Fatimah mengaku sudah membeli tanah itu dari menantunya dengan harga Rp10 juta.

“Saya beli sewaktu suami saya masih ada,” kata dia sambil membuka-buka sertifikat tanah yang ia beli dari Nurhalim bin Sidik yang tak lain adalah menantunya tahun 1987.

Meski begitu, nenek Fatimah mengaku tak takut dan siap meladeni gugatan anak dan menantunya itu. Sebab, kata dia, tanah itu adalah haknya. “Saya juga enggak ridho kalau ini di ambil begitu saja,” ujar Fatimah.

Kronologi Pembelian Tanah

Masamah, anak kedelapan Fatimah, menjelaskan, permasalahan berawal pada tahun 1987. Saat itu, suami Fatimah sekaligus ayah Nurhana, Abdurahman, membeli tanah seluas 397 meter persegi di Cipondoh, Tangerang, dari Nurhakim, suami dari Nurhana, dengan harga Rp 10 juta.

Di atas tanah itu kemudian dibangun rumah dengan dana Fatimah dan anak-anaknya, tetapi sertifikat rumah masih atas nama Nurhakim.

Sekitar 27 tahun, sekeluarga Abdurahman dan Fatimah beserta beberapa anaknya tinggal di rumah tersebut. Sedangkan anak lainnya yang telah berkeluarga, termasuk Nurhana, tinggal bersama suaminya di tempat lain. Saat itu tidak ada masalah sama sekali, bahkan pembicaraan tentang sertifikat ataupun tanah dan rumah itu.

Namun, sejak 2011, setelah Abdurahman dan suami dari salah satu adik Nurhana yang anggota TNI meninggal dunia, Nurhana bersama dengan suaminya mulai mempermasalahkan persoalan kepemilikan tanah tersebut.

Sebelumnya Fatimah telah meminta sebanyak empat kali pengurusan ganti nama sertifikat, tetapi Nurhana dan suaminya selalu memberikan jawaban yang sama dan menolak untuk ganti nama. “Ini kan menantu sama mertua, enggak apa-apalah. Kayak enggak percaya banget,”

Nurhana menggugat Fatimah dan saudaranya yang juga tinggal di rumah tersebut bahwa almarhum ayahnya belum membayar tanah tersebut.

Sebelum memutuskan jalur hukum, Nurhana pun pernah meminta sebesar Rp 10 juta sebagai biaya ganti rugi. Namun, biaya itu lambat laun naik menjadi Rp 50 juta, berlanjut ke Rp 100 juta, sampai ke Rp 1 miliar.

Masamah mengaku bahwa dia pernah mengumpulkan uang Rp 50 juta dan akan segera dibayarkan. Namun, Nurhana saat itu tidak mau menerima uang tersebut dan meminta nominal yang lebih besar.

(viva.co.id)