SOLID-GOLDBERJANGKA.COM – Imam Izak-EL M. Pasha, pemimpin Malcolm X Mosque, mengatakan situasi ini telah berlangsung beberapa tahun. Jemaan Baptist Temple Church telah tiga tahun menggunakan masjid ini untuk misa. Penganut Yahudi lebih lama lagi.

“Kami bersyukur kepada Allah karena Imam Pasha menyelamatkan kami dari keharusan menyewa gedung untuk misa,” ujar Shepherd Lee, pendeta Baptist Temple kepada Wall Street Journal.

Mia Simring, umat Yahudi setempat yang biasa mengikuti minyan, mengatakan; “Muslim di sini benar-benar hangat dan ramah.”

Baptist Temple Church tidak lagi memiliki gereja, setelah tempat ibadah mereka satu-satunya runtuh akibat usia. Sedangkan umat Yahudi tidak memiliki lahan untuk membuat sinagoga.

Masjid Malcolm Shabazz, demikian nama aslinya, dibangun tahun 1956 sebagai pusat gerakan nasionalisme kulit hitam Amerika Serikat. Tahun 1964, Malcolm X meninggalkan tempat ini, dan Louis Farakhan mengambil alih.

Satu tahun kemudian Malcolm X dibunuh di tempatnya membangun gerakan Islam.

Tahun 1975, Elijah Mohammad orang yang mengislamkan Malcolm X meninggal dunia. Ajaran Elijah Mohammad berbeda dengan Islam mainstream. Malcolm X meninggalkan Elijah Mohammad, setelah pulang menunaikan haji dan berkeliling ke Timur Tengah untuk mempelajari Islam yang benar.

Masjid dengan kubah hijau di West 116th Street dan Malcolm X Boulevard kini bukan lagi simbol separatisme kulit hitam AS, tapi ikon persatuan.

Imam Pasha merenovasi masjid. Menyediakan kursi untuk misa, dan mimbar bergambar salib.

“Ini kesempatan bagi kami untuk merangkul semua,” ujar Imam Pasha. “Umat Kristen boleh menggelar misa di dalam masjid. Tidak ada biaya sewa atau apa pun.”

Setiap Jumat, masjid menampung 200 jamaah shalat. Sedangkan pada hari-hari biasa, sekitar seratus orang shalat maghrib, isya, dan subuh. Masjid agak sepi pada siang hari, karena Muslim sekitar lebih suka shalat di rumah atau di tempat kerja.

Persiapan untuk minyan dan misa biasanya dilakukan setelah Muslim usai menunaikan shalat subuh.

Adakah yang salah? Tidak. Di tempat lain di AS, sejumlah gereja dijadikan tempat shalat Jumat.

(inilah.com)