SOLID-GOLDBERJANGKA.COM – ‘Industrialisasi holocaust’ menurut Finkelstein, menemukan bentuk efektifnya pascaperang Arab-Israel, Juni 1967. “Setelah itu, industrialisasi cerita sedih itu pun kian menjadi dan menemukan pembenaran setelah kemenangan besar yang diraih Israel pada Oktober 1973,” tulis Finkelstein di halaman 27 buku tersebut. Melalui kampanye besar-besaran yang melibatkan semua bentuk budaya pop (pop culture), kaum Yahudi bisa benar-benar mendikte public AS—yang tak pelak berarti mendikte warga dunia.

“Setelah itu, semua pihak yang kritis terhadap Zionisme dengan gampang mereka tuding sebagai rasis dan antiSemit,” kata Finkelstein.

Apa saja kuda tunggang yang membuat Zionisme menempati posisi nyaman (dalam bahasa slank anak muda—PW, Posisi Wueeenak) saat ini? Zionisme dengan cerdas telah mendompleng arus besar budaya pop. Mereka mengubah panggung hiburan, berbagai pentas entertainment dan mengubahnya menjadi ramah Zionis. Infiltrasi itu tentu saja juga merambah televisi dan film Hollywood. Lihatlah panggung hiburan AS, dan setelah sekian dekade kita bisa mengerti mengapa artis setua Joan Rivers bisa diabaikan Dewi Kebijakan, dan menjadi ‘berdarah dingin’.

“Mereka pantas mati,” kata Joan untuk warga Palestina yang terbunuh dalam pembantaian Israel di Gaza. “Kalian pantas untuk mati. Kalian yang memulainya. Jangan harapsaya berduka,” kata artis berusia 81 tahun yang sebenarnya sudah bau tanah itu.

Benar kata professor dari University of Virginia, AS, Allison J Muray, dalam budaya massa, “Citra-citra telah mengalahkan urusan baik dan buruk.” Dalam budaya yang telah abai dengan kebenaran, wajar bila pernyataan pemikir besar Muhammad Iqbal menemukan kebenarannya. “Kebudayaan baru adalah kebudayaan yang membunuhi umat manusia. Dan pembunuhan itu dilakukan di balik berbagai selimut…”

Bila Zionisme bisa menempati posisi ‘PW’ itu karena budaya pop, tidakkah menunggangi budaya pop adalah negasi paling efektif? Apalagi manusia masa kini selalu disebut-sebut cenderung tak mau ‘rumit’ dan enggan menekuni yang ‘mumet-mumet’. Sementara sebagaimana diakui komponis AS, Trevor Dunn, budaya pop tak pernah menyoal tentang kedalaman. “Semua hanya berurusan dengan marketing, suplai-demand dan konsumerisme,” kata dia.

Pada sisi inilah, apa yang pernah dipopulerkan antara lain oleh pesepakbola Nicolas Anelka kala berselebrasi usai menyarangkan gol, bisa dianggap wajar. Desember tahun lalu, usai menjebol gawang West Ham, Anelka berselebrasi dengan melakukan gerakan quenelle. Sebenarnya itu hanya geraklan sederhana berupa merentang lurus tangan kanan, seraya tangan kiri memegang pangkal lengan kanan.

Persoalannya, entah mengapa, gerakan itu cenderung didekat-dekatkan kepada salam ala Nazi ‘Heil Hitler!’, dan kini dianggap sebagai ekspresi antiSemit. Anelka pun dihukum tak boleh main lima kali pertandingan, serta denda 80 ribu pon. Belakangan, dikabarkan Anelka juga memilih hengkang dari klub tersebut.

Quenelleyang awalnya biasa saja, kini telah menjadi symbol rasis—untuk kalangan Yahudi, dan tentu saja otomatis menjadi simbol perlawanan akan hegemoni Yahudi dan Zionisme bagi kalangan lain.

Ekspresi ini pertama kali dipopulerkan aktivis politik dan komedian Prancis,Dieudonn M’bala M’bala.Pertama kali dilakukan pada 2005, dan sejak saat itu mulai dipergunakan dalam berbagai konteks. Dieudonne pun menggunakan gerakan itu saat mendukung demo massa anti-Zionisme dalam pemilu Eropa, 2009 lalu. Sejak itulah, dengan dijustifikasi penekanan oleh kalangan Yahudi sendiri, quenelle akhirnya menjadi ikon perlawanan akan Zionisme.

Akankah quenelle lenyap karena tekanan kalangan Yahudi yang juga menguasai persepakbolaan Eropa? Sepertinya tidak. Tak hanya karenaistri M’bala M’bala justru mendaftarkan quenelle kepada lembaga hak cipta dan properti di Prancis, serta berencana meluncurkan aneka merchandise bertemakan quenelle. Quenelle sendiri sepertinya akan menjadi revolusi tersendiri.

“Quenelle tidak lagi milik saya. Quenelle adalah milik revolusi,” ujar M’bala M’bala. Dan Anelka tidak kesepian dalam hal ini. Pesepakbola Samir Nasri dan Mamadou Sakho, juga pernah berfoto dengan ekspresi quenelle.

Boleh-boleh saja para pesepakbola keder dengan bayangan aneka sanksi. Tetapi bukankah para pendemo, dan siapa saja yang anti-Zionisme serta kekejaman tanpa perikemanusiaan yang acap kali digelar Israel bisa melakukannya sebagai tanda penolakan kekejian?

Alhasil, mungkin para Yahudi pun akhirnya tak bisa tidak kecuali mengucapkan,”Selamat datang era quenelle!”

(inilah.com)