SOLID GOLD BERJANGKA JAKARTA – Setelah Resolusi Tahun 2016 kita buat, kini saatnya kita menuju pada 1 tahapan yang sangat penting dan menentukan yaitu implementasi atau tindakan nyata untuk mewujudkan semua yang kita tuangkan dalam resolusi.

Ya karena hanya dengan tindakan atau action yang membuat perbedaan antara sang pemimpi dengan sang pemimpin masa depan, dan untuk melakukan sebuah tindakan nyata adalah sangat menantang boleh dibilang sungguh sulit.

Pada berbagai kesempatan dialog atau diskusi sering saya lemparkan pertanyaan yang provokatif. Siapakah penghambat terbesar dari semua resolusi yang telah kita buat sendiri? Apakah orang lain ataukah diri kita sendiri?

Dan faktanya sebagian besar mereka mangatakan “sebenarnya yang paling bertanggung jawab terhadap kegagalan saya mencapai resolusi ya saya sendiri.”

Lantas bagaimana dengan anda? Apa jawaban atas pertanyaan di atas?

Maka bersyukurlah jika kita ada dalam rombongan manusia yang sadar bahwa ternyata peran diri kita lebih besar dan berdampak pada keberhasilan atau kegagalan mencapai visi yang terpahat pada resolusi, dibandingkan dengan peran orang lain atau keadaan diluar sana.

Jika demikian, lalu apakah yang terjadi pada diri kita ketika kita sangat sulit sekali berdamai dengan diri kita sendiri? Kadang kita merasakan sangat berat menghentikan kebiasaan yang terbukti berulang kali menghancurkan mimpi anda. Atau barangkali kita menjadi tidak yakin dan kurang percaya bahwa sesungguhnya kita mampu untuk melakukan itu.

Inilah yang kami sebut sebagai Batu Sandungan Jiwa, istilah kerennya sering disebut dengan Mental Block, yaitu suatu keadaan yang membuat manusia terhalang melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup mereka sendiri.

Akibat dari Batu Sandungan Jiwa ini, banyak sekali rekan kami yang merasa tidak bahagia dengan apa yang dijalaninya saat ini, dan semoga Anda bukan salah satu dari mereka.

Batu Sandungan Jiwa bahkan sanggup menghentikan orang dengan kemampuan teknis luar biasa menjadi seperti orang yang amatiran. Artinya meskipun anda memiliki kemampuan tinggi, namun jika ternyata gagal menyingkirkan Batu Sandungan Jiwa ini, maka segala kemampuan tersebut menjadi tidak berarti.

Apakah yang memicu datangnya Batu Sandungan Jiwa ini?

Trauma masa lalu, pengalaman buruk, dendam kesumat, rasa bersalah dan aneka kejadian yang menyakitkan hati berdasarkan kajian ilmiah memang sangat berpengaruh terhadap lahir Batu Sandungan Jiwa.

Sebagai contoh, ketika anda pernah mengalami trauma hampir tenggelam ketika belajar berenang dimasa kanak-kanak, maka kenangan ini akan tersimpan dalam otak bawah sadar dan perlahan membentuk keyakinan baru yang mengatakan bahwa “saya memang tidak berbakat berenang, saya tidak akan pernah bisa berenang”

Dan ketika kita tumbuh dewasa, lalu ingin berenang Batu Sandungan Jiwa itu mulai “menggelinding” menghalangi niat dan tindakan kita untuk sekali lagi belajar berenang, kita menjadi takut, kurang percaya diri, khawatir dan sejenisnya.

Singkirkan Batu itu Sekarang!

Tidak ada cara lain untuk menyingkirkan Batu Sandungan Jiwa itu, kecuali dengan mulai saat ini kita wajib menyembuhkan bagian-bagian dari jiwa kita yang masih mengalami luka bathin menganga, jangan berpikir “ah waktulah yang akan mengurai segala masa lalu yang belum didamaikan itu.”

Karena waktu tidak akan pernah bisa mengurainya, hanya ikhtiar jiwa kita sendirilah yang mampu mengurainya dengan berbagai cara berikut ini:

Memaafkan sebelum dimintai maaf. Cara pertama ini memang mudah diucapkan dan jelas susah sekali dilakukan. “Bagaimana mungkin dia yang berbuat aniaya sehingga saya trauma, kok malah saya yang harus memaafkannya?” Barangkali ini yang sering diungkapkan oleh mereka yang masih menyimpan trauma serta dendam masa lalu.

Dengan memaafkan, pada hakikatnya kita telah melepas endapan energi negatif ang berperan dalam pembentukan Mental Block.

Menerima itu sebagai bagian dari hidup. Cara kedua ini juga setali tiga uang dengan cara pertama di atas. Ketika kita sudah mampu memaafkan segala kejadian dan siapapun yang berperan menciptakan trauma buruk, termasuk barangkali anggota keluarga kita sendiri, maka saya dan anda akan bisa menerima itu sebagai bagian dari kehidupan.

Cara kedua ini akan mendamaikan diri kita yang sekarang dengan diri kita pada masa lalu, sehingga perlahan Batu Sandungan Jiwa mulai meleleh.

Mengikhlaskan segala yang pernah terjadi. Dengan cara ketiga ini berarti kita membiarkan dan memberikan jalan keluar bagi segala beban sesak di dada yang selama ini menyakiti diri kita. Hasilnya kita merasa lebih ringan melangkah menyambut hari esok bersama dengan resolusi baru yang kita buat.

Ketika kita berhasil menyingkirkan segala Batu Sandungan Jiwa, itu artinya kita telah siap melangkah!

Selamat Berbisnis dan Sukses Selalu untuk Anda! – SOLIDGOLD BERJANGKA

Sumber