SOLID-GOLDBERJANGKA.COM – Mengutip laman Forbes, Senin (11/8/2014), sebanyak 18 dari 27 partisipan menilai harga emas akan naik pekan ini. Sebaliknya, enam partisipan memprediksi harga emas akan turun dan tiga lainnya memperkirakan harga emas bergerak stagnan.

Pekan lalu, para partisipan menilai harga emas akan turun. Faktanya, harga emas justru naik US$ 17 per ounce.

Dengan memanasnya ketegangan Rusia-Ukraina pekan lalu serta gencatan senjata antara pasukan Hamas dan Israel, para partisipan yakin itu akan menjadi faktor penguat harga emas.

Sejumlah grafik harga emas juga menunjukkan tanda-tanda penguatan nilai jual emas.Pakar strategi pasar CMC Markets, Collin Cieszynski mengatakan, dengan harga emas yang kembali ke level US$ 1.300 per ounce, grafik harga emas semakin positif.

“Emas punya peluang untuk terus menguat jika berhasil melewati US$ 1.322 per ounce,” tuturnya.

Dari segi fundamental, perekonomian Eropa masih lemah dan sejumlah sanksi tidak dapat membantunya.

Artinya, tekanan yang terus berkembang memicu Bank Sentral Eropa untuk melakukan sejumlah perubahan kebijakan. Kondisi tersebut dapat menjadi pendorong kenaikan harga emas.

“Ketegangan politik di sejumlah wilayah seperti Ukraina, Irak, Afrika Barat, Gaza, Libya dan lainnya dapat membuat perdagangan emas semakin aktif,” jelasnya.

Presiden dan pakar strategi INO dan Market Clu, Adam Hewison, juga yakin harga emas naik, tapi dengan alasan lain.

(liputan6.com)