SOLID-GOLDBERJANGKA.COM – Menurut cerita pria kelahiran Malang 35 tahun lalu itu, dirinya sejak lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI) sudah mulai kerja. “Karena tak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. Saya langsung kerja jadi kuli batu di Gresik,” katanya.

Saat kerja kuli batu, penghasilan per harinya hanya Rp 35.000. Hal itu digeluti selama 3 tahun di Gresik. “Berhenti jadi kuli batu, kerja jadi kuli bangunan selama satu tahun. Kerja kuli bangunan juga tidak cukup untuk makan,” kata suami dari Mutmainnah itu.

Awal mula menggeluti usaha produksi songkok, saat kerja menjadi kuli batu, Suib berteman dengan Udin, yang bekerja di sebuah perusahaan songkok di Gresik. “Dari Udin teman saya itu, saya banyak tahu bagaimana membuat songkok itu. Dari saya punya ide memproduksi songkok untuk dijual di Malang Raya,” kata Suib.

Namun, keinginan bukannya tanpa halangan. Karena Suib masih belum memiliki modal. Untuk mendapatkan sedikit modal, Suib kembali bekerja menjadi kuli bangunan di Malang. “Setelah mendapatkan uang Rp 300.000, saya buat untuk modal memproduksi songkok. Karena cara membuatnya, hingga bahannya apa saja saya sudah tahu,” ungkap Suib.

Ayah dari Ayu Rahmawati dan Mochamad Baihaqi Kaizan itu terus menggeluti usaha produksi songkok itu, dan hasilnya dijual ke pasar-pasar tradisional yang ada di Malang Raya. Namun, saat itu masih mampu memproduksi sebanyak 20 biji songkok. “Karena modalnya hanya Rp 300.000,” kata alumnus MI Mambaul Ulum, Desa Sukolelo, Wajak itu.

Adapun bahan baku songkok bermerek Panah Emas, produksi M Suib itu asli “Bumi Arema” itu terdiri kain bludru, yang dibelinya dari Kabupaten Gresik. Di Gresik, memang menjadi wilayah produksi songkok terbesar di Jawa Timur. “Bahan bludru itu di impor dari Korea. Selain bludru bahannya dari plastik, dan kertas dan kain biasa,” urai Suib.

Produksi songkok Suib terdiri dari berbagai ukuran, dan disesuaikan dengan pesanan. Begitu juga soal tinggi ukurannya. “Banyak juga yang pesan dengan ukuran tinggi dari ukuran yang umum terjual di pasaran,” katanya.

Saat awal produksi tahun 2002, Suib membuat songkok di rumah dan hanya dengan ditemani sang istri. Tak ada gudang untuk memproduksi songkok.

Namun mulai 2007, dia sudah mulai mampu merekrut dua karyawan, didorong oleh naiknya permintaan pasar. Dalam sehari, songkok yang dihasilkan mencapai 60 buah, yang dijual ke pasar-pasar tradisional dan toko busana yang ada di Malang Raya.

Ditanya mengenai harga jualnya, dia menyebutkan beraneka ragam mulai dari harga Rp 18.000 hingga Rp 30.000 per songkok. “Itu harga grosir. Kalau harga di pasar lebih tinggi,” akunya.

Songkok yang diproduksi Suib, tak hanya dipakai oleh masyarakat biasa. Para pejabat tinggi di Malang juga banyak yang pesan langsung ke rumah Suib. “Setiap tahun, Bupati Malang selalu pesan songkok di sini. Sejak Bupati Sujud Pribadi hingga Rendra Kresna, pesan langsung ke sini. Seluruh Camat di 33 Kecamatan di Kabupaten Malang juga pesan songkok disini,” ungkapnya.

Meski produksinya telah menjadi langganan para pejabat di Malang, namun Suib masih mengeluhkan minimnya dukungan modal dari pemerintah daerah. “Sejak saya buka usaha ini, tak pernah dapat bantuan dari pemerintah. Pernah disuruh ikut pameran, tapi saya tidak mau. Pernah didata, tapi sampai sekarang juga tak dapat bantuan,” keluhnya.

Namun demikian,dirinya sangat bersyukur karena bisnis yang digelutinya bisa sukses. Pendapatan per harinya sudah mencapai Rp 300.000. Jika perbulan sudah mampu meraup keuntungan hingga Rp 10 juta. “Jika bulan puasa, naik hingga 50 persen. Produksi perhari mampu 200 biji lebih,” katanya.

Hingga kini, usaha yang digeluti Suib masih satu-satunya di Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Batu dan Kota Malang). Cara menjualnya juga masih secara manual. Ia keliling sendiri ke banyak toko dan pasar tradisional di Malang Raya.

(kompas.com)