Mengembalikan Rasa Percaya Diri Anak yang Terkena Bullying

PT. Solid Gold Berjangka

PT. Solid Gold Berjangka – Apresiasi pada sikap bijak anak. “Salah satu trik nya, orang tua boleh menantang anaksupaya mau lebih banyak beraktivitas atau mencoba mengurangi makanan manis, instan, atau berlemak,” sarannya.

PT. Solid Gold Berjangka

Pelecehan atau biasa disebut bullying adalah salah satu masalah sosial yang kini kerap dialami oleh anak-anak, baik secara fisik maupun mental.

Sebagai orangtua, sikap apakah yang harus dilakukan agar anak tetap tegar?

Secara mental, coba berikan anak tips dan trik saat perasaannya sedih karena di-bully.

Beberapa dukungan semacam ini bisa membuat anak kembali percaya diri dan mencoba menjalani pola hidup sehat.

Di saat kecil, biasanya jenis bully yang dialami berkaitan dengan fisik, misalnya karena obesitas atau kegemukan.

Orangtua sebaiknya menuntun anak untuk mengetahui bakatnya, baik di bidang akademis maupun seni, agar memandang dirinya berharga. Selain itu, orangtua juga harus menanamkan paham agar anak merasa dirinya dicintai.

Mendengarkan apa yang dilakukan anak dalam menghadapi tekanan tersebut adalah salah satu cara positif.

Selanjutnya, orangtua mengajak anak untuk melihat kondisi tubuhnya. Jika anak memang mengalami obesitas, berikan pemahaman tentang pentingnya memiliki tubuh sehat.

“Pada umumnya, korban bully akan mengalami penurunan rasa percaya diri. Oleh karena itu, orangtua berperan dalam mengembalikan rasa percaya diri tersebut,” ungkap Dra. Naomi Soetikno, Psi., M.Pd, psikolog klinis anak dalam forum Ngobras bertema Mencegah Obesitas Anak dengan Aktif Bergerak, Selasa (23/8/2016).

Ia menjelaskan, orangtua sebaiknya menanamkan paham agar anak dapat menerima diri apa adanya. Hal itu membantu membuka pikiran anak agar mau bergerak.

Bahaya Kelebihan Berat Badan pada Anak

Kasus kelebihan berat badan pada kalangan anak usia di bawah lima tahun, meningkat menjadi 14,2 persen tahun 2010 dari sebelumnya 12,2 persen di tahun 2007.

“Anak-anak yang orangtua obesitas atau kegemukan, sekitar 50-80 persen juga akan kegemukan. Anak-anak dan remaja yang kegemukan juga akan obesitas di usia dewasa,” kata dr.Indrarti Soekotjo, spesialis kedokteran olahraga, dalam acara media edukasi “Yuk Main di Luar” yang diadakan oleh Nuvo Family dan Forum Ngobras di Jakarta (23/8/16).

Obesitas atau kelebihan berat badan pada anak sudah menjadi epidemi pada 25 tahun terakhir. Penderita terbanyak memang di negara maju, tapi belakangan ini jumlah penderita di Indonesia meningkat pesat.

Menurut dr.Titi, panggilan akrab Indrarti, obesitas adalah gemuk yang tidak lucu lagi karena anak beresiko mengalami berbagai komplikasi penyakit.

Adapun prevalensi obesitas pada kalangan usia 18 tahun ke atas, dari 19 persen tahun 2007 naik menjadi 21,7 persen pada 2010.

Obesitas terjadi karena penumpukan lemak yang berlebihan secara menyeluruh di bawah kulit dan jaringan lainnya di dalam tubuh.

Timbunan lemak dalam tubuh memang menjadi salah satu faktor risiko munculnya beragam penyakit, tak terkecuali pada anak-anak.

Di Indonesia, obesitas juga sudah digolongkan sebagai penyakit karena itu tidak boleh dibiarkan.

Risiko yang dihadapi anak obesitas antara lain hipertensi, Kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, gangguan pertumbuhan tulang, asma, sleep apnea, hingga depresi karena merasa rendah diri.

Pada anak perempuan, kegemukan juga menyebabkan pubertas dini. Kondisi tersebut akan memicu beragam gangguan lain, termasuk osteoporosis, hingga tinggi badan cenderung pendek.

Ajak gerak | PT. Solid Gold Berjangka

Untuk itu ia mengajak orangtua agar kembali menumbuhkan kebiasaan aktif bergerak. Aktivitas fisik yang dilakukan anak bisa dilakukan secara bertahap, mulai dari yang ringan, sedang, sampai berat. Pada anak, mereka dianjurkan melakukan aktivitas fisik 60 menit setiap hari.

“Aktivitas di luar rumah sudah menjadi aktivitas wajib di keluarga kami. Beruntung sekarang ini kami tinggal di Bali sehingga banyak aktivitas luar ruang yang bisa dilakukan, mulai dari hiking, ke pantai, atau main layangan,” katanya.

Menurut dr.Titi, prinsipnya orangtua harus terlibat aktif dan membuat kegiatan fisik itu menyenangkan bagi anak.

Orangtua memegang peran besar dalam kondisi obesitas anak. Selain pola makan yang tidak tepat sehingga anak kelebihan kalori, seringkali anak juga dibiarkan kurang aktif bergerak. Paparan gadget dan kebiasaan menonton televisi juga membuat anak lebih banyak duduk diam.

“Karateristik alamiah anak adalah bergerak. Sejak lahir, ia bergerak saat belajar telungkup, merangkak, dan berjalan. Hanya memang semakin besar orangtua sering membatasi pola alamiah anak ini dan lebih suka jika anaknya diam,” kata dr.Titi.

Presenter Sophie Navita yang juga inisiator gerakan #IndonesiaMakanSayur, mengatakan selalu berusaha memberikan contoh pola makan sehat dan aktivitas fisik pada kedua anak laki-lakinya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*