PT Solid Gold Berjangka | Siapkan Uang Pensiun Lewat 5 Cara Ini

PT Solid Gold Berjangka
PT Solid Gold Berjangka

PT Solid Gold Berjangka | Milenial, Siapkan Uang Pensiun Lewat 5 Cara Mudah Ini

PT SOLID GOLD BERJANGKA JAKARTA – Generasi milenial kini menghadapi zaman yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kehadiran media sosial sedikit banyak melahirkan tekanan yang lebih besar perihal tuntutan gaya hidup. Dorongan untuk bertindak konsumtif juga lebih kuat, tanpa dibarengi komitmen pengelolaan finansial yang baik. Jebakan gaya hidup ini bisa jadi boomerang finansial yang berbahaya di masa depan.

Survei yang dilakukan oleh Bank Permata beberapa waktu lalu menyebutkan, 9 dari 10 orang mengeluarkan uang lebih dari Rp 900 ribu per bulan untuk pengeluaran yang sifatnya receh atau istilah kerennya “The latte factor”. Angka itu relatif besar bahkan bisa melampaui nilai pengeluaran untuk pos tagihan rutin, seperti air atau listrik.

Beberapa jenis pengeluaran receh yang tanpa disadari bisa menghabiskan banyak uang antara lain, pembelian air minum dalam kemasan, jajan kopi atau kebiasaan rutin hangout, rokok, make up, fesyen, dan sebagainya.

Padahal, bila pola konsumsi bisa dikelola lebih terarah, seseorang bisa memanfaatkan penghasilan mereka untuk keperluan yang lebih produktif, misalnya untuk menyusun kebutuhan dana pensiun.

Tak kurang dari seorang Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI, menyoroti kebiasaan finansial generasi milenial ini. Dalam sebuah forum di Jakarta pekan lalu, mantan managing director World Bank tersebut memberi saran penting agar para milenial mulai serius memikirkan persiapan dana pensiun.

“Kita lebih senang membelanjakan uangnya beli kopi. Anak saya tiga-tiganya sering sekali beli kopi. Jadi saya nge-klik. Baru kerja, tapi beli kopi. Gajinya berapa sih? Kalau dikumpulin jadi pensiun lebih berarti,” ujar Sri Mulyani.

Bila mengacu pada statistik jenis dana pensiun, bisa terlihat bahwa mayoritas orang Indonesia masih belum menilai penting persiapan pensiun. Sri Mulyani memaparkan, dana yang dikelola oleh industri dana pensiun sejauh ini masih berkisar Rp 266 triliun atau 11,7 % dari total himpunan dana Industri Keuangan Non Bank saat ini.

Adapun rasio jenis dana pensiun dengan Pendapatan Domestik Bruto di Indonesia sejauh ini juga masih sangat rendah, yaitu hanya 1,85 %. Jauh di bawah rasio dana pensiun di Thailand yang sudah menembus 6 %. Bahkan di Kanada, rasio dana pensiunnya sudah menembus 72 % dari PDB di sana.

Nah, apa saja langkah konkret yang bisa dijalankan anak muda untuk memulai persiapan dana pensiun, berikut ini tips dari situs perbandingan dan pengajuan produk keuangan

1. Targetkan kapan Anda hendak pensiun

Ketika masih berada di masa puncak produktivitas, kebanyakan orang nyaris tak terpikir untuk pensiun. Rasa-rasanya masih lama masa itu sehingga banyak orang menilai tidak mendesak untuk mempersiapkannya. Padahal, semakin awal Anda mempersiapkan, akan semakin ringan usaha yang perlu Anda tempuh.

Langkah konkret pertama, targetkan kapan Anda hendak pensiun. Bila saat ini usia Anda masih 30 tahun dan menargetkan akan pensiun atau tidak lagi memiliki penghasilan dari bekerja secara rutin pada usia 55 tahun, maka Anda punya waktu 20 tahun untuk mempersiapkan kebutuhan dana pensiun Anda kelak.

Bukan cuma target usia pensiun yang perlu Anda tentukan, tapi miliki pula asumsi usia harapan hidup. Misalnya, Anda ingin pensiun di usia 55 tahun dan memakai asumsi usia harapan hidup hingga 70 tahun. Ini berarti, ada jeda waktu 15 tahun di mana Anda hidup dalam kondisi sudah tidak berpenghasilan aktif.

2. Hitung kebutuhan dana pensiun

Di usia pensiun, kemungkinan Anda sudah tidak lagi menanggung beban cicilan yang umum terjadi pada fase keuangan di usia 30-an. Misalnya, beban cicilan KPR, cicilan mobil, dan sebagainya. Begitu juga dengan tanggungan biaya sekolah anak mungkin sudah jauh lebih ringan.

Namun, di usia pensiun kemungkinan akan muncul pos pengeluaran lain seperti biaya pemeliharaan kesehatan, biaya perawat lansia, dan lain-lain. Maka itu, langkah selanjutnya adalah menentukan standar hidup saat kelak pensiun. Contoh mudah, anggaplah saat ini biaya hidup rutin Anda setiap bulan adalah Rp 10 juta dan berasumsi expense ratio sebesar 80 %.

Dengan begitu, total dana pensiun yang harus Anda siapkan untuk membiayai hidup selama 15 tahun di masa pensiun mencapai Rp 13,46 miliar atau sebesar Rp 86,67 juta per bulan.

3. Mulai menyicil sekarang juga

Mungkin Anda terkaget-kaget saat mendapati begitu besarnya nilai dana yang perlu Anda siapkan untuk membiayai kehidupan saat sudah pensiun kelak. Benarkah angkanya sebesar itu? Ya, benar, karena dalam menghitung kebutuhan tersebut, Anda perlu memfaktorkan angka inflasi. Pendapatan sebesar Rp 10 juta saat ini dengan kelak saat Anda sudah pensiun tidaklah sama akibat terjadinya penurunan nilai uang yang tak terelakkan.

Maka itu, akan lebih baik bila Anda mempersiapkan pengumpulan dana pensiun mulai hari ini juga. Caranya bagaimana? Tak lain adalah melalui aksi investasi di instrument yang mampu tumbuh di atas laju inflasi. Dengan begitu, produk tabungan bank atau deposito bank yang tidak mampu tumbuh di atas angka inflasi, lebih baik Anda abaikan.

Mulailah menyicil “tabungan” dana pensiun di produk yang berpeluang tumbuh jauh melampaui inflasi dalam jangka panjang seperti reksadana saham, saham, property, bahkan mungkin emas. Anda bisa juga menimbang untuk langsung mengikuti program dana pensiun di perusahaan dana pensiun.

4. Berapa yang harus ditabung untuk pensiun?

Seperti diulas di atas, Anda memiliki waktu 25 tahun untuk menyiapkan kebutuhan dana pensiun. Memakai kalkulator investasi, dengan target dana pensiun sebesar Rp 13,46 miliar, maka Anda bisa memulai investasi rutin di produk investasi yang mampu tumbuh minimal 20 % per tahun selama 25 tahun, sebesar Rp 1,56 juta per bulan.

Apa saja pilihan produk investasi yang memiliki peluang tumbuh minimal 20 % per tahun? Anda bisa menimbang reksadana saham, saham, property atau emas.

5. Kurangi “latte factor” dan alihkan untuk dana pensiun

Menyisihkan uang Rp 1,56 juta setiap bulan untuk kebutuhan dana pensiun mungkin sekilas terasa berat bagi Anda. Namun, jangan terburu-buru skeptis, ya. Cobalah melihat lagi pola konsumsi Anda selama ini. Apakah masih ada pos pengeluaran yang bisa dihemat?

Menuruti nasihat Sri Mulyani untuk mengurangi jajan “ngopi” atau berbagai jenis pengeluaran “latte factor” lain, sebenarnya Anda bisa, kok mengusahakan untuk menabung dana pensiun. Misalnya dengan mengurangi frekuensi “ngopi” dari semulai sehari dua kali menjadi sehari sekali saja.

Alihkan hasil penghematan itu untuk menabung dana pensiun. Dengan begitu, kebutuhan masa pensiun Anda bisa lebih aman. – PT SOLID GOLD BERJANGKA

sumber : liputan6

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*