Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan, pada akhir triwulan I-2014, Rupiah menguat 7,13 persen dibandingkan dengan level akhir 2013. Penguatan terutama terjadi sejak Februari 2014 sejalan dengan meningkatnya aliran masuk modal asing. 

“Namun penguatan Rupiah sedikit terkoreksi pada April 2014, dipengaruhi pernyataan The Fed yang lebih hawkish, kekhawatiran atas perlambatan ekonomi Tiongkok, dan eskalasi ketegangan geopolitik di perbatasan Ukraina-Rusia,” tutur dia di Gedung BI, Jakarta, Kamis (8/5/2014). Pada April 2014, Rupiah ditutup di level Rp11.562 per USD, melemah 1,74 persen dibandingkan dengan level akhir Maret 2014. Secara rata-rata, Rupiah pada April 2014 tercatat Rp11.439 per USD, melemah 0,17 persen dari bulan sebelumnya. 

“Perkembangan nilai tukar Rupiah sampai April 2014 tersebut juga diikuti dengan perkembangan positif pada struktur mikro pasar valas seperti volume transaksi valas yang meningkat, dan selisih bid-ask yang menipis, sehingga menunjukkan kondisi pasar valas domestik yang semakin likuid,” tutur dia. “Ke depan, BI tetap konsisten menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya, dan didukung berbagai upaya untuk meningkatkan pendalaman pasar uang”  (okezone.com)