solid-goldberjangka.comSaham-saham kelapa sawit mulai menggeliat seiring laporan keuangan kuartal III-2014 yang mengesankan. Bagaimana arah harga saham sektor emas hijau ini berikutnya ?

1. Saham CPO Curi Perhatian

Beberapa minggu terakhir, saham-saham sektor perkebunan mulai menggeliat seiring laporan keuangan kuartal ketiga tahun 2014 yang cukup kinclong. Hal ini seiring juga dengan pembalikan arah trend harga komoditas Crude Palm Oil (CPO) di pasar dunia. Padahal dalam kurun enam bulan terakhir, harga CPO sempat menyentuh harga terendah dalam lima tahun di level RM1.914 pada awal September 2014.

Dari sisi fundamental, pemerintah Malaysia meningkatkan porsi CPO untuk biodiesel dari 5% menjadi 7% per November 2014. Kebijakan lainnya terkait sektor ini adalah pajak ekspor nol persen yang masih dijalankan Indonesia dan Malaysia. Kedua hal ini diyakini dapat meredakan kekhawatiran atas melimpahnya pasokan CPO di negara produsen.

Selain batubara, saham-saham CPO termasuk saham komoditas yang sering kali menarik minat investor. Hal ini bisa jadi terkait dengan Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar di dunia. Menurut laporan terakhir yang dirilis Bursa Efek Indonesia per Oktober lalu, total kapitalisasi saham perkebunan ini adalah sekitar 121 triliun.

2. Saham-saham CPO Penggerak

Saham-saham penggerak industri ini antara lain PT Astra Agro Lestari (AALI), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMAR), PT London Sumatera Plantation (LSIP) PT Salim Ivomas Pratama (SIMP), dan PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS).

Pada lapis kedua sektor ini, terdapat nama-nama seperti PT Sampoerna Agro (SGRO), PT BW Plantation (BWPT), PT Tunas Baru Lampung (TBLA) dan PT Dharma Satya Nusantara (DSNG). Keuntungan bersih 14 emiten perkebunan mulai meningkat pada triwulan ketiga 2014 dengan membukukan pendapatan rata-rata 55,76% secara tahunan.

Setelah mencermati laporan keuangan tengah tahunan yang dirilis beberapa waktu lalu, terdapat empat saham yang layak disimak pergerakannya. Keempat saham tersebut masing-masing AALI, LSIP, SIMP dan SGRO. Saham-saham ini dipilih berdasarkan rasio keuangan masing-masing menurut laporan keuangan terakhir. Untuk diketahui, price earning ratio (PER) rata-rata saham di sektor CPO ini sekitar 14,67x dan price to book value (PBV) berada di angka 3,47x.

3. PT Astra Agro Lestari (AALI)

AALI dipilih karena saham ini merupakan saham dengan kapitalisasi terbesar di sektor ini. Anak usaha PT Astra International (ASII) ini menempati peringkat pertama perolehan laba bersih sebesar Rp1,9 triliun atau naik 107 persen dari Rp 910,9 miliar.

Kinerja tersebut menghasilkan earning per share (EPS) sebesar Rp1.595, sehingga memunculkan rasio PER 14,56x. PBV saham ini berada di angka 3,13x. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) masih terkontrol di angka 0,31x dan imbal hasil terhadap modal berada di angka 21,50%.

4. PT PP London Sumatera Indonesia (LSIP)

LSIP merupakan satu-satunya saham CPO yang tidak memiliki utang dan bahkan memiliki kas lebih dari 1,3 triliun. Hal ini menjadi nilai lebih tersendiri bagi emiten yang 59,48 % sahamnya dimiliki oleh Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP). SIMP dan LSIP masing-masing membukukan laba bersih sebesar Rp 557,3 miliar dan Rp 698,6 miliar selama kuartal ketiga tahun 2014 ini. Laba bersih Salim Ivomas tumbuh 225,7 persen, sedangkan London Sumatera naik 57,7 persen.

Kedua anak usaha grup Indofood tersebut masing-masing mencetak penjualan sebesar Rp10,7 triliun dan Rp3,5 triliun selama periode sembilan bulan 2014. Dari kinerja tersebut, diperoleh rasio PER saham LSIP berada di angka 14,19x, dan SIMP di 15,84x. Sedangkan rasio PBV LSIP berada di level 1,84 x, dan SIMP di 0,71x. Rasio ROE LSIP cukup baik di angka 12,99%, namun SIMP mencatatkan ROE yang kurang baik di kisaran 4,49%.

5. PT Sampoerna Agro (SGRO)

Sementara itu, SGRO mencatatkan kinerja paling atraktif pada periode ini. Saham ini dapat dijadikan alternatif investasi oleh karena PER-nya yang masih rendah dibanding saham satu industri. Emiten ini membukukan laba bersih pada kuartal ketiga tahun ini sebesar 310,8 miliar. Naik hampir 10 kali lipat jika dibandingkan periode yang sama tahun 2013 sebesar 30,7 miliar.

Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 164.00 per lembar. Angka PER yang disetahunkan berada di angka 9,67x dan PBV di 1,30x menjadikan saham ini menarik untuk dikoleksi. ROE pun cukup menarik di angka 13,52%.

6. Lampaui Harga Wajar kecuali SGRO

Dengan menggunakan salah satu teknik valuasi berdasarkan ROE dan EPS dari laporan keuangan terakhir yang disetahunkan, diperoleh harga wajar untuk AALI sebesar Rp21.196, margin of safety (MoS) atau ambang batas aman sebesar -9,57% dari harga sekarang.

Hal ini mengindikasikan bahwa AALI sudah diperdagangkan di atas harga wajarnya. Demikian juga halnya dengan harga wajar LSIP di 1.671 (MoS: -15,79%), dan SIMP di Rp531 (MoS:-40,42%). Dari keempat saham yang disodorkan, praktis hanya SGRO yang masih memiliki potential upside cukup besar dengan harga wajar di Rp2.705 (MoS: 21,80%).

7. Mulai Berbalik Arah

Secara teknikal, indeks sektor pertanian sudah berhasil mematahkan garis downtrend yang terbentuk sejak beberapa bulan lalu. Hal ini ditandai dengan kebangkitan beberapa saham penggerak sektor tersebut. Setelah mengalami koreksi yang cukup lama, beberapa saham CPO mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah.

AALI bergerak di antara level Fibonacci 38,2% dan 50%. Level harga Rp24.550 menjadi resisten berikutnya, jika mampu bertahan di atas Rp23.300. Sementara itu, SIMP masih berkonsolidasi di area bottom antara harga 660 dan 756.

Jika mampu bertahan di atas Rp756, resisten berikutnya yang harus ditembus adalah Rp815 sebelum mencoba menuju harga tertinggi tahun ini di level Rp1.065.

Lain lagi dengan LSIP dan SGRO. Harga kedua emiten ini tengah berkonsolidasi di antara Fibonacci 61,8% dan 76,4% dalam rentang harga setahun terakhir. LSIP tengah mencari arah baru untuk menembus resisten di Rp1.975 dengan support kuat di Rp1.855. Sedangkan SGRO sedang berkonsolidasi di area harga Rp2.075-2.164 sebelum mencoba menembus harga tertinggi tahun ini di level Rp2.450.

(inilah.com)