SOLID-GOLDBERJANGKA.COM – Chatib menjelaskan, keputusan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan ini akan ditangkap sebagai sinyal lebih lanjut bagi kalangan investor, mengenai kapan Federal Reserve selaku bank sentral AS akan menghentikan program stimulus dan mulai memberlakukan kenaikan suku bunga.
Untuk itu, menurut Chatib, bila terjadi pelemahan rupiah, atau gejolak di pasar modal, itu merupakan hal yang wajar. Setidaknya, hingga kebijakan The Fed pekan ini diumumkan.
“The Fed mau mengumumkan kebijakan. Kita lihat saja, perkembangan rapat FOMC ini seperti apa,” ujar Chatib di Jakarta.

Gejala pemulihan ekonomi AS dari krisis, ia melanjutkan, kini sedang menjadi kajian utama para pejabat bank sentral AS itu. Hal ini, sekaligus menjadi dasar pertimbangan The Fed untuk mempercepat penghentian stimulus moneternya. Hal ini, berdampak pada likuiditas global, termasuk di negara-negara berkembang, yang merupakan tujuan utama investor menanamkan modal selama AS mengalami krisis.
Karena itu, kebijakan The Fed pekan ini ditengarai akan memberi kepastian tentang kapan penghentian program stimulus itu mulai diterapkan. Adapun rencana kenaikan suku bunga AS akan menciptakan arus balik likuiditas dan modal dari emerging markets (pasar negara berkembang) kembali ke AS.
Situasi ini, memengaruhi nilai tukar dolar AS terhadap mata uang negara-negara lainnya. Dolar mengalami penguatan menjelang kebijakan The Fed diumumkan.
“Rupiah akan melemah sampai ada hasil keputusan The Fed. Nanti, baru pasarnya akan kembali normal lagi setelah itu, mereka akan rasional apa yang akan diambil dari The Fed,” kata Chatib

(viva.co.id.)