SOLID BERJANGKA | BERKILAU SETELAH SEKIAN LAMA TERTEKAN

SOLID BERJANGKA
SOLID BERJANGKA

SOLID BERJANGKA – BIDEN EFFECT! HARGA EMAS KEMBALI BERKILAU SETELAH SEKIAN LAMA TERTEKAN

SOLID BERJANGKA JAKARTA – Saat Joe Biden dilantik menjadi Presiden ke-46 Amerika Serikat, harga emas mengalami kenaikan yang tajam setelah sekian lama tertekan. Di sesi perdagangan pada hari Kamis (22/Januari) harga naik hingga 0.41 % atau mencapai level $ 1875.10/troy ons seiring pelemahan dari Indeks Dollar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Setelah melesat signifikan dalam waktu singkat biasanya harga emas diikuti dengan koreksi. Kenaikan tajam dimanfaatkan oleh sebagian trader untuk mendulang keuntungan (profit taking). Namun banyak analis yang optimis bahwa kenaikan harga emas yang terjadi kemarin merupakan tanda-tanda akan dimulainya tren bullish emas.
Edward Moya selaku analis dari OANDA mengatakan bahwa melesatnya harga emas dipicu oleh optimisme pelaku pasar bahwa kombinasi Joe Biden dan Menteri Keuangan Amerika Serikat terpilih Janet Yellen akan berhasil menggelontorkan stimulus untuk perekonomian Amerika Serikat yang masih sekarat.

Stimulus merupakan sebuah berita bagus untuk emas. Tahun 2020 silam ketika stimulus jumbo digelontorkan oleh pemerintah dan bank sentral harga emas berhasil menguat. Dalam pandangan kaum monetarist injeksi likuiditas ke sistem keuangan membuat pasokan uang beredar akan bertambah banyak. Di saat yang sama pandemi Covid-19 dan lockdown membuat banyak pabrik tidak beroperasi dengan kapasitas maksimal. Sehingga ada kemungkinan besar inflasi yang tinggi bisa terjadi.

Emas merupakan salah satu aset yang memiliki kinerja tinggi dan berkorelasi positif dengan inflasi. Emas dianggap sebagai salah satu aset untuk lindung nilai terhadap inflasi. Penurunan indeks dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menjadi katalis positif untuk emas. Pasalnya emas merupakan aset yang tak memberikan imbal hasil. Minat investor untuk memegang emas sangat tergantung pada biaya peluang.

Era suku bunga rendah membuat yield atau imbal hasil adalah barang yang langka. Secara nominal yield boleh saja masih positif. Namun secara riil setelah dikurangi inflasi yield obligasi pemerintah negara maju sudah banyak yang negatif. Inilah yang membuat opportunity cost memegang emas menjadi rendah.

ANALISA FUNDAMENTAL EMAS

Menurut analisa fundamental, Biden telah menjadi Presiden yang ke-46 Amerika Serikat, menggantikan Donald Trump. Pidato pertamanya akan memfokuskan pada pentingnya menyatukan kembali bangsa yang terpecah pasca kerusuhan Gedung Capitol awal bulan ini. Pada pekan lalu, Biden Mengumumkan rencana stimulus fiskal senilai US $ 1.9 triliun. Stimulus tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, dan kembali mendongkrak kinerja kenaikan harga emas. Selain itu, harapan vaksinasi akan dipercepat juga membuat sentimen pelaku pasar membaik.

Kebijakan fiskal ekspansif tersebut tentunya akan membuat defisit anggaran Amerika Serikat menjadi semakin bengkak. Berdasarkan data Kementerian Keuangan Amerika Serikat, defisit anggaran Amerika Serikat membengkak 60,7 % sejak Oktober tahun lalu. Hal ini, sangat menguntungkan terhadap emas karena, tentunya akan memicu kenaikan tingkat inflasi ekonomi di masa yang akan datang.

Disisi lain, Janet Yellen menghimbau agar para wakil rakyat “bertindak besar” dan mendukung stimulus lebih lanjut guna mendorong pemulihan ekonomi. Ia juga menilai Amerika Serikat dapat menerapkan pajak korporat yang lebih tinggi asalkan berkoordinasi dengan negara-negara lain, tetapi rencana kenaikan pajak korporat hanya akan dimulai setelah Amerika Serikat berhasil mengatasi pandemi COVID-19.

ANALISA TEKNIKAL EMAS

Secara teknikal, Kitco melakukan survei di akhir tahun lalu, terhadap pelaku pasar maupun para analis. Hasilnya survei yang melibatkan 2.000 pelaku pasar, sebanyak 84 % memprediksi harga emas akan kembali ke atas US $ 2.000/troy ons di akhir tahun ini.

Yang paling banyak memprediksi emas berada di kisaran US $ 2.300/troy ons. Hasil survei terhadap pelaku pasar tersebut sejalan dengan proyeksi analis yang disurvei Kitco. Analis dari Goldman Sachs, Commerzbank, dan CIBC memprediksi harga emas akan mencapai US $ 2.300/troy ons di tahun ini.

Range mingguan, jika harga emas dapat menembus level resistance 1 $ 1879/troy ons, maka emas dapat melanjutkan kenaikan ke level resistance 2 yaitu pada level $ 1900/troy ons.

Sebaliknya jika harga emas dapat menembus level support 1 $ 1838/troy ons, maka harga emas dapat melanjutkan penurunan kembali ke support 2 di level $ 1818/troy ons dan support 3 $ 1800/troy ons.
SOLID BERJANGKA

SGB Jakarta/TulusRifwandiGea

About solid gold 2231 Articles
PT. Solid Gold Berjangka merupakan perusahaan yang bergerak dibidang keuangan. PT. Solid Gold Berjangka ini termasuk kedalam salah satu bagian dari Bursa Berjangka Jakarta atau disingkat dengan BBJ yang telah diresmikan berdiri pada tahun 2005.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*