solid-goldberjangka.com – Penelitian terbaru dari University of Antwerp di Belgia, menemukan bahwa berbagi makanan ternyata bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan lembut.

Penulis penelitian, Charlotte De Backer mengatakan bahwa orang dapat mendapatkan keuntungan dari berbagi makanan, karena mereka terbiasa untuk berpikir adil. Sebab, dalam pembagian makanan mereka jadi lebih bijak dalam memberikan porsi yang adil.

Penelitian yang dirilis di jurnal Appetite ini melakukan survei terhadap 466 mahasiswa Belgia, menanyakan seberapa sering mereka makan masakan yang dimasak oleh keluarga semasa kecil dibandingkan saat ini.

Hasilnya, partisipan yang lebih sering berbagi makanan ternyata memiliki perilaku yang lebih baik, seperti terbiasa menjadi orang yang pertama kali berdiri untuk memberikan kursi pada orang yang membutuhkan di kendaraan umum, menjadi sukarelawan, atau tanpa ragu membantu orang asing yang terlihat membutuhkan. Hal ini disebabakan karena orang tersebut mengetahui pentingnya berbagi satu sama lain.

De Backer mengatakan sifat individualis masyarakat Barat dapat luruh lewat perilaku berbagi makanan. Seperti yang dia sampaikan pada Time lewat email, ”Berbagi makanan pada orang-orang membuat seseorang terbiasa berpikir mengenai keadilan, terkait dengan pembagian porsi demi kebahagiaan bersama. Kemudian, mereka cenderung lebih bijak menjalani kekuasaan, karena terbiasa berpikir cepat dan tenang mengenai siapa yang didahulukan dan membutuhkan. Lalu, kebiasaan ini juga melatih mengendalikan sifat serakah dengan mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang pribadi,”.

Menurut De Backer, ada perbedaan antara makanan Barat dan Asia. Umumnya makanan ala Asia dimasak dalam porsi besar sehingga memang untuk dibagikan.

“Negara di Asia memiliki tradisi kuat dalam berbagi makanan, meskipun di negara Barat, terdapat banyak restoran Asia yang menyajikan makanan dalam piring besar untuk berbagi bersama orang yang duduk dekat meja mereka”

(kompas.com)