SOLID-GOLDBERJANGKA.COM – Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) alias Daulah Islamiyah tak hanya mengancam kelompok minoritas Yazidi, Kristen, juga muslim Syiah di Irak dan Suriah. Seluruh negara kini mewaspadai penyebaran ideologi dan caranya yang penuh kekerasan ke penjuru Bumi.

Soal ISIS, kabar burung ini beredar di Lebanon: Amerika Serikat diduga di balik pembentukan ISIS. Bahkan Hillary Clinton disebut-sebut telah mengaku dalam bukunya, Hard Choices.

“Di Timur Tengah, teori konspirasi sudah mendarah daging,” kata seorang mantan pejabat Lebanon dalam pembicaraan dengan wartawan BBC,  Suzanne Kianpour, di Beirut.

Militan ISIS pekan lalu mulai memasuki Lebanon, menyebar teror di Desa Arsal di dekat perbatasan dengan Suriah, memaksa ratusan orang melarikan diri dari rumah. Desas-desus pun muncul bahwa AS patut disalahkan atas tindakan mereka.

Video mengerikan tentang kekejaman ISIS melawan Angkatan Bersenjata Lebanon menyebar di internet. Begitu pula dengan teori bahwa AS ada di belakang mereka.

Sebagai dasar klaim mereka, para pencetus teori konspirasi menunjuk sebuah ‘bukti kuat’: pernyataan Hillary Clinton, mantan Menlu AS yang diperkirakan akan maju dalam Pilpres 2016 mendatang.

Foto yang diduga kutipan kalimat yang buku Hillary menyebar luas di media sosial di Lebanon, mengklaim AS membuat ISIS untuk menciptakan instabilitas di wilayah tersebut, demi kepentingan Negeri Paman Sam sendiri.

Rumor yang merebak itu bahkan membuat Kementerian Luar Negeri Lebanon memanggil Dubes AS untuk negara itu, David Hale.

Bagaimana tanggapan AS?

Kedubes AS langsung mengeluarkan pernyataan resmi di laman Facebook resmi mereka. Berusaha untuk meredakan rumor.

“Setiap anggapan yang menyebut, AS mempertimbangkan mengakui Negara Islam Irak dan Levant (ISIL nama lain ISIS) selain sebagai sebuah organisasi teroris atau punya peran dalam pembentukannya, terbukti salah. Isu yang menyebar di Lebanon, yang menyebutkan hal sebaliknya, adalah tuduhan mengada-ada.”

Ditambah lagi, Hillary Clinton justru secara terang-terangan mengritik kebijakan pemerintahan Barack Obama yang tak membeking pemberontak Suriah yang mengarah pada kebangkitan ISIS. Ia tak menuduh AS membentuk ISIS.

Apapun, munculnya teori tersebut tidaklah mengagetkan. Sejarah mencatat, AS beberapa kali mendukung militan dan kelompok gerilya: mujahidin di Afghanistan dari situlah Al Qaeda muncul. Juga fakta bahwa sekutu AS di Teluk dituduh mendukung Daulah Islamiyah.

“Teori semacam itu berlimpah karena Washington telah menunjukkan kecenderungan untuk mendukung perubahan rezim. Mendukung kelompok pemberontak dalam konteks tersebut bukanlah praktik baru,”

Sebuah negara yang mengambil kebijakan soft power. Teori bahwa AS yang harus disalahkan atas pemenggalan, orang-orang yang dikubur hidup-hidup, dan kekejaman ISIS yang lain bisa sangat merusak citra AS.

Belakangan, bincang-bincang yang mengemuka di jalanan Beirut adalah bahwa Hizbullah tak akan membiarkan ISIS memasuki ibukota Lebanon. Bukan, “AS akan membantu kita.”

“Kebanyakan orang di sini yakin bahwa AS dan Saudi adalah satu suara soal uang minyak. Dan donatur utama ISIS adalah Saudi atau AS. Sejarah mengajarkan pada kita, biasanya penyandang dana adalah penghasut,” kata Amer Murad, warga Beirut.

“Perkembangan penting yang kita lihat saat ini adalah kolaborasi antara militer Lebanon dengan Hizbullah untuk mempertahankan negara dari ancaman yang disebabkan perang saudara di Suriah,” kata Octavius Pinkard.

Ketika konflik di Suriah atau Lebanon berkembang, pun demikian dengan persepsi terhadap Washington. Di sana, trio Hizbullah, Damaskus, dan Teheran memenangkan pertempuran propaganda.

Meski demikian, saat Obama mengumumkan serangan udara terhadap ISIS di Irak, pada Kamis lalu, dukungan terhadap AS kembali muncul di Facebook.

“Tak pernah aku merasa sesenang ini terhadap intervensi AS,” kata salah seorang Facebooker. Meski tak semua orang Lebanon berpendapat sama.

(liputan6.com)